Jembatan Rantau Keloyang Dibangun Zaman Belanda, dan Cerita Orang Keramat yang Menyelamatkan Desa

By Redaksi 02 Mar 2020, 15:13:41 WIBFeature

Jembatan Rantau Keloyang Dibangun Zaman Belanda, dan Cerita Orang Keramat yang Menyelamatkan Desa

Keterangan Gambar : Foto: Iwan Syofriadi - Jembatan Keloyang yang dibangun sejak zaman kolonial Belanda


BUNGO, WARTALINTAS.ID -  Alas jembatan itu berderak-derak saat motor melintasinya. Ban motor meniti tiga helai papan yang memanjang sejauh sekitar 60 meter. Di bawah papan yang memanjang itu,  tersusun pula papan-papan yang melintang. Semuanya tertupu pada besi-besi yang sudah dimakan usia.

Jematan itu salah satu peninggalan Belanda, dibangun pada tahun 1937. Letaknya di Dusun Rantau Keloyang, Kecamatan Pelepat, Kebaupaten Bungo, Provinsi Jambi. Dikarenakan besi-besi jembatan itu ada yang keropos, masyarakat setempat membuatkan portal besi di kedua ujung jembatan. Tujuannya  agar mobil yang melebihi muatan tidak bisa melintas.

“Di Zaman Belanda dibangunnya. Orang-orang di sini menyebutnya, Jembatan Rantau Keloyang,” kata H Syafrial selaku Kasi Pemerintahan Dusun Rantau Keloyang kepada Wartalintas.id saat ditemui di kantornya, Jumat (28/02/2020).

Untuk alas jembatan, kata dia, sudah beberapa kali diganti. Hal itu lantaran papan-papannya banyak yang lapuk. Begitu pun dengan besi-besi yang mulai keropos, juga sudah diperbaiki.

“Kalau perbaikan besi-besinya tidak terlalu banyak,” ungkapnya.

Sepengetahuannya, jembatan peninggalan Belanda di Dusun Rantau Keloyang itu tidak dibangun dengan kerja paksa.

“Jembatan dibuat bukan kerja paksa, tidak dengar itu. Cuma untuk akses balanda saja,” katanya.

Sebelumnya, di jembatan Rantau Keloyang itu merupakan jalan lintas dari Padang menuju Jakarta. Pemerintah membangun jalan Lintas Sumatera yang sekarang. Sekitar tahun 1983, jalan lama tidak di fungsikan lagi sebagai jalan Lintas Sumatera.

“Di sini dulu jalan lintas sumatara. Di simpang empat menuju dusun  Rantau Keloyang, Sungai Beringin Sekampil, dan jalan ke arah perusahaan, ada namanya jalan lama,” katanya.

Menurut cerita yang diperolehnya dari  orang tua-tua dahalu, jembatan itu pernah akan dihancurkan. Waktu itu  pada masa peralihan dari zaman Belanda ke zaman Jepang. Namun, rencana itu gagal dengan adanya orang sakti yang menghadangnya. Mereka yang hedak menghacurkan jembatan, lari ketakutan  melihat di mulut orang sakti itu mengeluarkan api.

“Orang Keramat itu kalau batuk mengeluarkan api. Maka larilah mereka, tidak jadi merubauhkan jembatan. Kalau ada musuh saja dikeluarkan sejatanya. Itu selintingan cerita orang terdahulu,” ungkapnya.

Dikatakanya, selain “Batuk Api”, ada lagi orang keramat di Dusun Rantau Keloyang pada waktu itu, yakni orang keramat berjulukan “berlutut pajang”.  Kalau dia duduk, lututnya lebih tinggi dari kepalanya.

“Masih ada kuburnya (orang keramat lutut pajang) di dekat masjid sini. Kalau yang batuk api, tidak tau meninggal dan kuburnya dimana,” ceritanya lagi.

Masyarakat setempat meminta kepada Pemerintah Daerah untuk memberikan perwaratan terhadap jembatan peninggalan Belanda tersebut. Selain sebagai menjaga peninggalan sejarah, di jembatan itu juga diharapkan sebagai tempat wisata nantinya.

“Diharapkan bisa diganti diganti dengan plat besi (lantai jembatan), usulan dari masyarakat, yangn bisa dilalui oleh orang-orang saja,” pintanya.


 

Jembatan yang melintasi sungai Batang Pelepat itu, saat ini hanya dilalui kendaraan roda dua saja. Untuk kendaraan roda empat, melewati jembatan baru di samping jembatan lama. Jembatan baru itu dibangun di akhir tahun 2018.

“Kalau jembatan yang baru bisa dilalui mobil sekeitar tahun 2020 (Sekitar sebulan inilah),”ujarnya.

Terpisah, Husni Ketayo, salah seorang pemerhati sejarah di Kabupaten Bungo mengatakan bahwa jembatan di Dusun Rantau Keloyang adalah peninggalan Belanda. Untuk itu, dia meminta agar jembatan itu dirawat dan dilestarikan oleh pemerintah daerah. Hal itu tentu menjadi bukti sejarah di Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun.

“Salah satu jembatan yang masih asli di Dusun Rantau Keloyang (di Bangun di zaman Belanda), menjelang pasar,” kata Husni Ketayo, kelahiran  Lubuk Landai tahun 1941.

(Wartalintas.id - Iwan Syofriadi)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook