Merendam "Raja", Tradisi Khitan di Bungo, Jambi, yang Kian Terlupakan

By redaksi warta lintas 16 Feb 2020, 18:24:17 WIBFeature

Merendam "Raja", Tradisi Khitan di Bungo, Jambi, yang Kian Terlupakan

Keterangan Gambar : Sembilan raja beredam di sungai sebelum disunat


Berkhitan bukan lagi jadi hal tabu bagi masyarakat di Indonesia. Namun, ada hal menarik pada tradisi khitanan di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Berikut tradisi berkhitan dengan ritual merendam 'raja' yang wartalintas.com rangkum.

BUNGO, WARTALINTAS.COM- Orang-orang yang tadi hanya bersantai-santai di pinggiran sungai itu, kini bergegas, bersiap-siap. Ada yang merapi-rapikan pakaian, ada juga yang mempersiapkan alat-alat kesenian untuk penampilan nanti. Sebagaian lain berjejer, membentuk barisan. Meraka menyambut kedatangan sembilan 'raja'.  

Tidak lama kemudian, kesembilan raja yang ditunggu-tunggu itu turun dari mobil. Rentak rabana serta salawat mengiringi kedatangan mereka. Satu per satu raja-raja itu didukung di atas pundak seorang laki-laki dewasa dari pihak ayah mereka masing-masing. Mereka dibawa ke sungai untuk mandi dan berendam. 

Sembilan raja itu duduk-duduk berendam di sungai sembari mengibas-ngibaskan air. Permukaan airnya sebatas pinggang mereka. Sedangkan di tepian sungai ramai orang menyaksikan. Setelah beberapa menit, raja-rajat itu bangkit dari duduk, lalu menceburkan diri ke sungai. Wajah mereka terlihat gembira bermain-main air. 

Sekitar 15 menit mandi dan berendam, kemudian mereka dipakaikan pakaian gamis putih dan serban. Lalu diarak lagi. Tujuannya untuk memberitahukan kepada masyarakat, bahwa mereka akan dikhitan atau disunat. Mereka diserahkan kepada keluarga dari pihak ibu, kemudian barulah dilakukan penyutan.

Sebelum ke pamandian itu, ada prosesi adat yang dilakukan, namanya “Jemput Tabawo”. Acaranya di Balai Adat. Pihak Prabu Wali (pihak ayah) meminta izin kepada Prabu Seso (pihak ibu) untuk membawa anak kemenakan mereka ke sungai. 

“Tradisi Jambi secara umum demikian. Mereka yang disunat ini, namanya raja yang disayangi. Kalau pengantin namanya raja sehari,” demikian kata Drs. H.M. Rifai Abtes, M.Sy,  Sekretaris Lembaga Adat Melayu Jambi Kabupaten Bungo menjelaskan tradisi tersebut.

Dia menjelaskan, beredam sebelum disunat gunanya membersihkan kotoran. Selain itu, hal tersebut juga bertujuan supaya kulit kemaluan tidak kejut. Selanjutnya, tukang sunat akan memeriksa apakah sudah kecut dan bersih atau belum.

Jika sudah kecut, berarti raja sudah siap disunat. Kulit yang kecut akan mempermudah proses pemotongan ujung kulit. Selain itu juga, hal tersebut juga dipercaya mengurangi rasa sakit dan mempercepat proses penyembuhan.

“Nantikan diperiksa lagi, kalau sudah pas baru disunat,” imbuh Dosen yang mengajar mata kuliah Adat Melayu Jambi di salah satu kampus di Kabupaten Bungo itu. 

 Dia menuturkan, tradisi sunat itu secara adat di Kabupaten Bungo penuh makna dan memiliki filosifi. Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi seperti itu kini sudah mulai ditinggalkan masyarakat. Untuk itu, lanjutnya,  Pemerintah Kabupaten Bungo berusaha membangkitkan lagi tradisi dan adat budaya tersebut.

    “Tradisi ini jarang dipakai orang sekarang, makanya keinginan beliau (Bupati Bungo) untuk membangkit batang terendam,” ungkapnya.

   Satu di antara anak yang disunat itu adalah Muhammad Rafa, anak Bupati Bungo H. Mashuri. Prosesi khitanan anak keduanya itu digelar secara adat berapa waktu lalu.

Muhammad Rafa dan delapan rekannya direndam di Sungai Lubuk Beringin, Kecamatan Batin III Ulu, Kabupaten Bungo, Jambi. Prosesinya digelar di rumah Lembaga Adat Melayu Kabupaten Bungo. 

Acara dimeriahkan dengan sejumlah penampilan seni dan budaya Kabupaten Bungo. Mulai dari kesenian Kulintang, Tari Tumbuk Tebing, dan Tari Mengucak Lubuk.

Kesenian daerah lain juga dimainkan, seperti tari piring dari Minangkabau, Tari Tor-tor dari Batak, dan penampilan kuda lumping dan reok dari Jawa. Penampilan itu dimainkan oleh sanggar-sanggar seni yang ada di Kabupaten Bungo. Acaranya digelar selama empat hari.

Demikianlah tradisi merendam raja di Bungo. Meski mulai terlupakan, tradisi itu masih dianut masyarakat untuk selalu dilestarikan di Bungo.

 (Iwan Syofriadi)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook