Kepala Pusat Kajian Transintegrasi Presentasi Paradigma Ilmu UIN STS Jambi dalam Serah Terima Jabatan Kepala Biro Administrasi dan Umum

By Redaksi 02 Jun 2021, 14:01:18 WIBWARTA BUNGO

Kepala Pusat Kajian Transintegrasi Presentasi Paradigma Ilmu UIN STS Jambi dalam Serah Terima Jabatan Kepala Biro Administrasi dan Umum

Keterangan Gambar :


Jambi, Wartalintas.id- Pada Jum’at, 28 Mei 2021 dalam sebuah momen Serah Terima Jabatan Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan dan Kepegawaian definitif, Hj. Sri Ilham Lubis, Lc., M.Pd,  Kepala Pusat Kajian dan Implementasi Transintegrasi Ilmu UIN STS Jambi, Dr. Fridiyanto diberi kesempatan untuk memperkenalkan Paradigma Ilmu Transintegrasi.

Fridiyanto menjelaskan bahwa Paradigma Transintegrasi memiliki distingsi jika dibandingkan dengan paradigma integrasi ilmu yang diterapkan oleh UIN sebelumnya, misalnya UIN Yogyakarta, UIN Jakarta dan UIN Malang. 

Fridiyanto dalam presentasinya mengatakan  bahwa UIN STS Jambi melalui  Paradigma Transintegrasi diharap akan menjawab persoalan dikotomi ilmu yang menjadi persoalan di dunia pendidikan Islam khususnya. 

"Pada masa IAIN/STAIN, dikotomi keilmuan sangat jelas, antara Ilmu Dunia dan Ilmu Akhirat. Sarjana IAIN hanya dianggap orang yang ahli dalam keilmuan Islam tradisional (Tarbiyah, Ushuluddin, Syariah, Adab, dan Dakwah) saja," terang Fridiyanto.

 Sedangkan perguruan tinggi umum, lanjutnya, hanya mempelajari keilmuan sains dan teknologi saja, namun mereka tidak memiliki kecakapan dalam keilmuan Islam.


"Dalam perkembangannya IAIN berubah menjadi UIN yang kemudian menerapkan paradigma integrasi ilmu, dimana antara ahli agama dan ahli sains saling menyapa dan saling berdialog,"katanya.

 Menurutnya, dalam paradigma integrasi ilmu ini keinginan untuk menciptakan ulama yang ilmuan dan ilmuan yang ulama belum dapat diwujudkan, karena sains dan agama belum benar-benar menyatu, masih sebatas saling menyapa dan dialog.

Fridiyanto menerangkan  bahwa Paradigma Transintegrasi yang diterapkan di UIN STS Jambi dapat mengisi kekurangan paradigma integrasi ilmu yang telah berlangsung. Beberapa persoalan integrasi ilmu, Pertama paradigma integrasi ilmu masih terhenti sebagai konsep, belum dapat diterapkan secara ideal dalam Tri Dharma Pergruan Tinggi; Kedua, Kesulitan  penerapan dalam aktivitas perkuliahan, serta Ketiga, belum komprehensif dapat menyatukan antara Islam dan sains. Dalam  Paradigma Transintegrasi, tidak lagi ditemukan dikotomi, dan integrasi semu yang belum dapat menyatukan ilmuan dan ulama, karena masih dalam tahap saling menyapa dan  belum integratif.

 "Sedangkan Paradigma Transintegrasi akan terjadi integrally embedded melebur dan menyatunya antara Islam dan Sains"jelasnya.

Menutup presentasinya Fridiyanto menegaskan bahwa dengan Paradigma Transintegrasi Ilmu maka UIN STS Jambi akan dapat mempersiapkan alumni “Saintis yang Ulama dan Ulama yang Saintis”.

"Sehingga persoalan dikotomi keilmuan dapat dislesaikan. Dimasa mendatang  tidak aneh jika UIN STS Jambi akan melahirkan sarjana yang ahli teknologi informasi namun memahami ajaran Islam, dan sebaliknya, seorang pendakwah yang dapat menggunakan teknologi informasi untuk mendukung dakwah Islam" tutupnya.

Wartalintas.id/Iwan Syofriadi




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook