OPINI: Kampus Merdeka dan Penerapan Paradigma Transintegrasi Ilmu
Dr. Fridiyanto, M. Pd.I

By Redaksi 01 Jul 2021, 14:43:27 WIBWARTA BUNGO

OPINI: Kampus Merdeka dan Penerapan Paradigma Transintegrasi  Ilmu

Keterangan Gambar : Dr. Fridiyanto, M. Pd.I


Di lingkungan Kementerian Agama, khususnya di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, terutama Universitas Islam Negeri, konsep Merdeka Belajar secara filosofis dikenal dengan konsep Integrasi Ilmu. Dalam bab buku ini penulis menggunakan Paradigma Transintegrasi Ilmu yang sedang dikembangkan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Hal ini sangat relevan dengan visi Kampus Merdeka sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim menjelaskan kebijakan Kampus Merdeka sebagai berikut.

 

“Memberi kebebasan dan otonomi kepada lembaga pendidikan, dan merdeka dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi yang berbelit serta mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai.”

 

Dari pernyataan Nadiem Makarim di atas terdapat dua poin penting dari kebijakan Kampus Merdeka, yaitu: debirokratisasi dan kebebasan intelektual dalam memilih bidang yang diminati.  Jika dilihat relevansi Kampus Merdeka dengan Mandat Universitas Islam Negeri sebagai berikut:

 

1. Mengembangkan ilmu umum berbasis keagamaan.

 

2. Mengembangkan ilmu keagamaan (keislaman), sosial dan humaniora serta sains dan teknologi.

 

3. Mengembangkan program pendidikan berbasis integrasi ilmu.

 

4. Secara akademik mengembangkan program pendidikan berbasis pada relasi antara ilmu keislaman dengan sosial dan humaniora serta sains dan teknologi.

 

5. Bagi mahasiswa S1 tetap mengkaji ilmu berbasis pada pendekatan monodisipliner.

 

6. Mahasiswa S2 dan S3 mengkaji ilmu berbasis pada pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.

Pada Mandat Universitas Islam Negeri di atas terdapat kerancuan di poin 5 tentang mahasiswa S1 yang menggunakan pendekatan monodisipliner yang tidak konsisten dengan paradigma integrasi ilmu.  

 

Pendidikan tinggi di era Revolusi Digital 4.0 tidak cukup hanya mengembangkan dan menyelesaikan persoalan mekanis, sains dan teknologi. Namun juga harus memiliki visi interkoneksi di antara beragam permasalahan skala global dan adanya inter relasi, misalnya antara fisika, kimia, dan dimensi masalah ekonomi. Perlu ada sistem interkoneksi kompleks misalnya antara ekologi, konservasi hutan, iklim global dan dampak terhadap biosphere (Penprase, 2018). Ilmuwan saat ini tidak lagi dapat bekerja individualis, sebuah konsep transintegrasi-interkonektif serta transintegratif antar bidang ilmu menjadi sebuah keharusan sebagai upaya menyelesaikan beragam persoalan keilmuan dan masalah manusia.

 

Paradigma Transintegrasi Ilmu merupakan ciri khas UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang diterapkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Paradigma Transintegrasi Ilmu berupaya melampaui paradigma keilmuan Integrasi Ilmu yang telah diterapkan di PTKIN khususnya UIN yang telah ada.

 

“Transintegrasi adalah paradigma ilmu yang dibangun dari semangat filsafat transmodernisme yang kembali memberi tempat bagi nilai tradisi dan agama ke ruang publik untuk bersama-sama dengan sains menciptakan masa depan umat manusia yang lebih baik. Paradigma baru ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab masalah unik dan kompleks yang dihadapi oleh masyarakat, dikembangkan berdasarkan worldview Islam, serta diikat oleh nilai universal yang dipahami secara terbuka, sehingga mampu memberikan ruang eksplorasi kebenaran dari berbagai sumber yang tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Dihubungkan dengan perspektif transmodernitas, sains islami akan mengakomodasi cahaya-cahaya yang terdapat dalam khazanah keilmuan Islam, lokalitas, dan dinamika perkembangan zaman, sehingga dapat diterima secara umum dan memberikan nilai guna teoritis, praktis, dan etis terhadap kemajuan peradaban manusia.”(UIN STS Jambi, 2020).

 

Konsep Paradigma Transintegrasi Ilmu yang diterapkan di UIN STS Jambi berupaya membuka ruang dikotomi yang ada di perguruan tinggi umum maupun yang ada di perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta. Melalui Paradigma Transintegrasi Ilmu perguruan tinggi akan memfasilitasi mahasiswa untuk mengeksploitasi dan mengkaji beragam ilmu dan teknologi sehingga mahasiswa dapat keluar dari pagar disiplin ilmu yang sangat ketat, kaku dan menghambat potensi inovasi dan kreativitas.

 

Dalam  praktiknya, di Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Paradigma Transintegrasi Ilmu masih diartikulasikan ke dalam Mata Kuliah Pengantar Transintegrasi Ilmu yang diklasifikasi kepada Mata Kuliah: 1) Pengantar Transintegrasi Ilmu  (umum ke kajian keislaman); 2) Pengantar Transintegrasi Ilmu (kajian keislaman ke umum); dan 3) Pengantar Transintegrasi Ilmu (kajian humaniora). Melalui mata kuliah Pengantar Transintegrasi tersebut diharapkan akan melebur dan melekat dalam setiap mata kuliah keahlian yang diajarkan di program studi masing-masing. Dengan Mata Kuliah Pengantar Transintegrasi nantinya mahasiswa perguruan tinggi Islam telah dipersiapkan untuk memiliki kecakapan dalam merekayasa bidang keilmuan yang ditekuninya dengan berbagai ilmu lainnya yang relevan yang dapat diaplikasikan. Penerapan Paradigma Trainsintegrasi ilmu, sebuah bidang keilmuan dan keahlian bukan berarti tidak memiliki identitas spesifikasi dan spesialisasi, namun ia merupakan sebuah worldview yang holistik, dimana seorang intelektual tidak hanya mampu berdialog dan saling menyapa dengan ilmu lainnya namun mampu menjadikannya dalam kesatupaduan dan perekayasaan dalam setiap kegiatan keilmuan yang dilakukannya. 

 

Paradigma Transintegrasi Ilmu yang diterapkan di UIN STS Jambi ini sangat memiliki relevansi dan peluang dengan adanya kebijakan Kampus Merdeka, terutama dalam poin mahasiswa dapat mengambil sks kuliah di luar keahlian program studi dan mengambil kegiatan di luar perguruan tinggi dimana mahasiswa studi. Paradigma Transintegrasi Ilmu merupakan ijtihad pengelola PTKIN untuk mengeluarkan alumni perguruan tinggi Islam yang holistik, yaitu ulama yang saintis dan saintis yang ulama. Sehingga nantinya alumni perguruan tinggi Islam di bidang kajian keislaman tidak tertutup kemungkinan juga akan terampil menggunakan teknologi informasi untuk menerapkan keahlian dan keilmuannya. Begitu juga mahasiswa yang menekuni ilmu umum seperti teknologi informasi juga akan menjadi sosok sarjana (ilmuan) ataupun praktisi yang memiliki akar tauhid yang kokoh serta didukung dengan filsafat ilmu, ushul fiqih, tafsir dan hadis tematik. Tentunya pekerjaan paradigmatik yang berusaha menembus batas dikotomi yang dilakukan khususnya perguruan tinggi Islam bukanlah pekerjaan gampang dan dapat dicapai dalam waktu singkat, memerlukan periode waktu yang cukup panjang sambil membenahi dan merevisi konseptual yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

 

Dalam konteks kebijakan Kampus Merdeka yang diterapkan di perguruan tinggi umum jika dipelajari mendetail masih memiliki proyeksi bahwa  alumni perguruan tinggi yang berorientasi hanya pada keahlian dan tenaga profesional di dunia kerja dan industri. Persoalan profil alumni yang humanis religius sesuai dengan agama yang dianut oleh mahasiswa di perguruan tinggi umum belum mendapat perhatian serius. Corak mekanis industrialis ini akan berdampak pada pandangan positivis serta melahirkan generasi yang sekuler kering dengan aspek spiritual dan humanisme. Pengelola perguruan tinggi umum perlu juga mempertimbangkan untuk mengadopsi Paradigma Transintegrasi yang memiliki visi mempersiapkan generasi muda Indonesia yang holistik. 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook